Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 14 September 2012

Adab Murid Terhadap Guru


Adab Murid Terhadap Guru
Merujuk pada kitab Bidayatul Hidayah Imam Ghozali disebutkan bahwa ada banyak adab, etika didalamnya terutama bagi pelajar terhadap guru dan diantara keterangan itu disini akan ditulis alakadarnya saja.

Jika engkau seorang santri/murid, maka beradablah kepada gurumu dengan adab yang mulia sebab dengan adab ini keberkahan ilmu akan didapatkan. Betapapun Anda kesal terhadap pengajaran dn pembelajaran, etika ini harus dipegang. Adab-adab tersebut adalah;

  • Mendahului salam dan penghormatan kepadanya.
  • Tidak banyak berbicara di hadapannya.
  • Tidak berbicara sebelum guru bertanya dan tidak bertanya sebelum mohon izin darinya.
  • Tidak menyampaikan sesuatu yang menentang pendapatnya atau menukil pendapat ulama lain yang berbeda dengannya.
  • Tidak mengisyaratkan sesuatu yang berbeda dengan pendapatnya sehingga engkau merasa lebih benar darinya.
  • Tidak bermusyawarah dengan seseorang di hadapannya dan tidak banyak menoleh ke berbagai arah, tetapi sebaiknya engkau duduk di hadapannya dengan menundukkan kepala, tenang, penuh adab seperti saat engkau melakukan shalat.
  • Tidak banyak bertanya kepadanya saat dia lelah atau sedang susah.
  • Ikut berdiri ketika dia bangun dari duduk.
  • Tidak bertanya ketika ia di jalan sebelum sampai di rumah.
  • Tidak berburuk sangka kepada guru dalam tindakannya yang engkau anggap munkar secara lahir, karena pasti dia lebih memahami rahasia-rahasia dirinya sendiri.

Intisarinya bahwa kita sebagai pelajar/santri pasti menghormati guru dengan keilmuannya.

Tersebut pula pada permulaan kitab Ta’limul Muta’allim, Assyaikh Burhanul Islam Azzarnuji telah menulis:

“Maka apabila aku melihat para penuntut ilmu pada zaman sekarang ini (zaman Assyaikh Azzarnuji) bersungguh-sungguh kepada ilmu, dan mereka tidak sampai pula pada ilmu yang dipelajari (tidak mendapat manfaat dan hasilnya yaitu beramal dan menyebarkan), terhalang karena mereka telah salah jalan dan meninggalkan syarat-syaratnya. Dan setiap yang tersalah jalan akan sesat, dan tidak mendapati tujuan, sedikit maupun banyak. Maka aku ingin dan hendak menerangkan kepada mereka jalan menuntut ilmu….”

Seterusnya Assyaikh Azzarnuji, menyebutkan adab atau etika perjalanan, etika menuntut ilmu dari mulai niat pertama menuntut ilmu itu sendiri hingga kepada memilih guru dan teman seperjuangan. Pentingnya mengagungkan ilmu dan ulama, wara dan berbagai lagi jalan yang harus dilakukan dalam menuntut ilmu.

Di sebutkan pula kendala dan hambatannya menuntut ilmu dalam tulisan di atas tadi. Apabila didapati pada zaman kita sekarang, masih banyak (dan tentu lebih banyak lagi dari zaman Imam Zarnuji hampir 10 abad yang lalu) di kalangan kita orang yang mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh, akan tetapi tidak mendapat faedah dari ilmunya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat. Malah hari ini banyak yang bukan dari aliran agama pun ingin belajar ilmu agama. Sangat baik memang keinginannya itu. Tetapi mengapa tidak didapati berkahnya?

Antara lain sebabnya adalah “tersalah jalan” itu sendiri, etika sopan santun dan beradab dalam menuntut ilmu sudah jarang diamalkan. Ingatlah wahai pelajar! Menuntut ilmu agama ini bukanlah sekedar hanya dengan mengumpulkan dan mengoleksi pengetahuan di otak saja. Karena jika demikian, maka harddisk PC jauh lebih alim dari kita semua. Sedangkan di dalam otak mengandung lebih dari 100 Gigabyte fail dari jutaan helaian kitab. Sudahkah kita menyimpannya dan berapa helai sudah didapati hafalan itu?

Bila kita igin tahu kesalahan jalan menuntut ilmu, maka ketahuilah bahwa salah jalan ini ada pada perkara-perkara yang telah disebutkan oleh Syaikh Azzarnuji. Tersebutkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, ada tiga perkara:

1) Niat
  • Berapa banyak di kalangan kita belajar karena ingin mudah bekerja dan mengumpul harta dunia nanti dengan sehelai ijazah?
  • Berapa banyak pula yang belajar untuk menunjukkan diri lebih alim dan pintar dari orang lain?
  • Berapa banyak pula yang belajar untuk menjadikan dirinya dipuji dan dihormati?
  • Berapa banyak pula di kalangan kita yang belajar untuk mencari-cari kesalahan ulama terdahulu?
  • Berapa banyak yang belajar untuk mencari bukti bahwa pendapat aku saja yang betul sedangkan amalan ummat Islam di seluruh dunia sebenarnya salah belaka?
  • Berapa banyak pula menutut ilmu tanpa diniatkan langsung untuk kembali ke tempat masing-masing bagi berjuang menegakkan Islam?


2) Memilih guru
  • Berapa banyak di kalangan kita yang tidak berhati-hati memilih guru lantas belajar dengan orang yang tidak betul pemikirannya?
  • Berapa banyak di kalangan kita yang belajar dengan guru yang tidak menjaga adab sebagai guru (mengutuk sana sini, mencerca alim ulama, tidak berakhlak dalam kata-kata maupun perbuatan dsb.)?
  • Berapa banyak di kalangan kita belajar sesuatu ilmu bukan dari ahlinya (belajar Fiqih dari tukang ukur, belajar hadits dari ahli bahasa dsb.)?
  • Lebih pelak lagi, berapa banyak pula yang belajar tanpa guru? Membaca sana dan sini, lalu mengambil faham sendiri daripada mengambil literatur tulisan para ulama.


3) Mengagungkan ilmu dan ulama
  • Berapa banyak dari kita yang mengetahui cara mengagungkan ilmu yang disebutkan oleh para ulama terdahulu?
  • Berapa banyak di kalangan kita yang tidak menghormati kitab ilmu?
  • Berapa banyak di kalangan kita yang meletakkan ilmunya sendiri di tempat yang rendah, lalu dengan gampang serampangan dijual-belikan dengan kepentingan dunia?
  • Berapa banyak pula yang tahu adab sebagai seorang murid tetapi tidak tahu atau tidak mempraktikkan adab kepada guru?
  • Berapa banyak yang tidak pula tahu membedakan antara meletakkan ilmu di tempat yang tinggi dengan takabbur atau menghina diri?
  • Berapa banyak pula tidak menghormati para ulama agung, lalu diletakkan ulama itu setaraf dengannya dalam pemikiran dan pemahaman dengan alasan mereka jua manusia yang tidak maksum?
  • Berapa banyak di kalangan kita yang terpengaruh dengan ucapan beberapa ustazd sekarang yang mencela dan dengan lantang mengkritik ulama silam, lalu merasa sangsi dengan para ulama itu?
  • Berapa banyak di kalangan kita yang bermulut latah mengutuk deretan ulama yang sudah lama mengorbankan diri untuk perjuangan Islam?
  • Berapa banyak pula yang bermulut latah terhadap para ulama terdahulu dan dengan sesuka hati mengatakan ulama terdahulu sesat, melakukan bid’ah, berfalsapah dalam bab Aqidah, dan pelbagai lagi kata nista?


Apabila kita nilai semula semua persoalan di atas, tentu sekali kita akan menjawab, “teralalu banyak.” Maka tidak heranlah apabila kita dapati terlalu banyak orang yang ingin mendalami ilmu agama, akan tetapi jauh tersasar dari kebenaran, berkah tiada, manfaat juga sirna, lalu tidak dapat menegakkan yang haq.

Jelaslah pada kita betapa pentingnya adab dalam menuntut dan menyebarkan ilmu. Tiada adab, niscaya tersalah jalanlah kita. Salah jalan bermakna sesat. Kalau orang yang belajar agama pun boleh sesat, bagaimana pula dengan yang tidak menginginkan agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar